Friday, 27 August 2010

Cerita Bersambung : " Rumah Misterius "


         Di pagi yang cerah ini,aku berangkat ke sekolah bersama 3 sahabatku. Nama sahabat-sahabatku itu adalah Farrel,Rafka,dan Fandy. Rumah mereka jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahku,jaraknya kurang lebih 50 meter dari rumahku. Perkenalkan,namaku Andi Satria Mahardika,biasa dipanggil Andi. Sekarang aku duduk di kelas 1 SMP. Aku bersekolah di Bintaro International School. Aku memiliki 1 orang kakak dan 1 orang adik. Namanya adalah Adi Surya Mahardika dan Anissa Setyo Mahardika. Saat ini aku tinggal bersama ibu,adik,dan kakakku,karena ayahku sedang bertugas di Malang untuk sementara waktu. Aku tinggal di Kompleks Bintaro Indah,tepatnya di Jalan Kalimantan No. 32,Bintaro. Di sebelah rumahku,terdapat sebuah rumah tua,yang katanya dulu bekas tempat tinggal penjajah Belanda. Rumah itu sangat tinggi,besar,kotor dan banyak sarang laba-labanya. Selain itu,katanya rumah itu mempunyai ruang bawah tanah tempat menyimpan senjata-senjata sewaktu perang dulu. Setiap pergi ke sekolah,aku dan teman-temanku selalu melewati rumah itu,setiap berada tepat di depan rumah itu,aku selalu ditakut-takuti oleh teman-temanku..
            Sepulang sekolah aku dipanggil untuk rapat OSIS,sehingga nanti aku pulang sekolah agak telat. Akupun memanggil Farrel yang sedang bersiap-siap untuk pulang: “Rel,sini bentar deh..Sorry,siang ini gw nggak bisa pulang bareng lo sama temen-temen lain,soalnya gw mau rapat OSIS dulu,jadi gw pulangnya telat,gw minta tolong kasih tau nyokap gw ya..” Kemudian,Farrel pun menjawab: “OK deh,tenang aja,nanti pulang sekolah gw bilangin ke nyokap lo..” Lalu Andi membalas: “Thanx a lot  Rel,you’re my best friend..” Jawab Farrel: “ It’s okay,no problem..”
            Andi pun berkumpul dengan anggota OSIS lainnya untuk segera melangsungkan rapat. Sementara itu,Farrel,Rafka,dan Fandy sedang berada di jalan menuju ke rumah mereka. Sesampainya di rumah Andi,mereka memanggil-manggil Ibu nya Andi,tetapi tidak ada yang keluar dari rumah Andi. Beberapa lama kemudian,mereka mendengar suara ketukan yang lumayan kencang yang berasal dari rumah tua dekat rumah Andi. Akhirnya ada seseorang yang keluar dari rumah Andi,ternyata yang keluar adalah Adi kakaknya Andi. Farrelpun berkata :”Kak Adi,kami mau menyampaikan pesan dari Adi,hari ini dia pulang telat,karena Ia harus meghadiri rapat OSIS untuk beberap jam dulu. Tolong beritahukan mamanya Andi ya,Kak!” “Baiklah,nanti akan Kakak sampaikan. Terima kasih ya,Rel.” Farrelpun menjawab: “Sama-sama,Kak..” Setelah menyampaikan pesan Andi, merekapun pulang kerumah mereka masing-masing.
            Akhirnya Andipun selesai rapat pukul 16.00 atau jam 4 sore. Langit sat itu terlihat dan nampak mendung seperti mau hujan. Tetapi Andi beruntung karena letak rumahnya dekat dengan sekolahnya.Akupun melewati rumah tua yang ada disebelah rumahku dengan hati-hati dan perasaan takut. Tiba-tiba aku mendengar suara “dug..dud..dug..” seperti suara orang yang sedang mengetuk tembok dengan palu. Suara itu berasl dari rumah tua itu. Akupun melihat ke arah rumah itu. Jendela di ruangan atasnya terlihat seperti ada cahaya lilin,lalu aku melihat seseorang yang rambutnya lebat,panjang, & keriting,namun wajahnya terlihat tidak terlalu jelas,dari kejauhan Ia terlihat menyeramkan,seperti kompeni pada jaman penjjahan Belanda dulu. Akupun langsung lari sekencang-kencangnya, dan beranjak pergi menjauhi rumah itu,lalu masuk ke dalam rumahku. Dengan jantung berdebar-debar,aku masuk ke kamar adikku yang sedang asyik bermain. Akupun berkata pada Nisa, Adikku :”Nis,temenin Kakak di kamar dong,please!” Lalu Nisapun menjawab : ”Aku sih mau,asalkan....Ehm...” karn terlalu lama menunggu Nisa berbicara,akupun bertanya lagi padanya : “Asalkan apa,Nis?” Nisapun segera menjawab : “ Asalkan Kakak mau menemani Nisa main boneka,di kamar Kakak juga tidak apa-apa..” “Baiklah,terserah kau saja Nis,yang penting kamu mau temenin Kakak di kamar atas....”lanjutku. Anissapun sibuk membawa boneka-bonekanya ke ruang kamarku yang ada di lantai atas itu. Akupun berjalan menuju ke kamarku sambil membantu Adikku membawa boneka-boneka mainannya. Setelah sampai dikamarku,aku langsung menutup pintu kamarku. Dan aku meminta tolong Adikku untuk menutup gordyn jendela kamarku,yang langsung terarah pada jendela atas rumah tua yang ada di sebelah rumahku : “Nis,tolong tutup gordyn jendelanya dong!” Lalu Anissapun menjawab : “Baik,Kak...” Nisapun segera menutup gordyn jendela itu,tapi tiba-tiba Nisa melihat ada seseorang laki-laki dari jendela atas rumah tua yang disebelah rumahnya itu. Laki-laki itu berambut lebat,panjang, dan juga keriting. Nisapun langsung memanggil Kakaknya : “Kakak,kesini sebentar deh,aku melihat ada seorang laki-laki dari rumah tua itu.” Andipun segera menghampiri Adiknya,dan ternyata benar bahwa ada seorang laki-laki yang terlihat dari rumah tua itu. “Oh tidak,itu seperti orang yang Kakak lihat tadi. Cepat tutup gordynnya,Nis!”seruku. Dan akupun bermain dengan Nisa,Adikku. Perasaanku sungguh tak menentu. Sebenarnya aku masih sangat penasaran dengan laki-laki itu,tetapi disamping itu,aku juga takut melihat laki-laki itu.

Puisi " SERPIHAN KENANGAN "


Waktu berjalan begitu cepat
Bagai menembus lorong waktu di angkasa
Begitu cepat pula kau meninggalkanku
Di dunia yang kelam dan kejam ini
            Kasih sayangmu selalu terbayang di tiap langkahku
            Hadirmu selalu menghiasi hariku
            Detik demi detik kumencarimu
            Namun kau  tetap tak kunjung datang
Sejak lama jiwa gelisah
Semakin lama
Hati semakin tak tenang
Berontak hati ingin bertemu
                Hatiku hancur pikiranku kusut
                Sesalku kini tiada henti
                Mengapa??
                Mengapa begitu cepat kau tinggalkan diriku?
Namun kini kusadari
Sesalku ini tiada arti
Hanya menambah luka di hati
Menusuk dalam di lubuk hatiku
                Kini ku mulai melangkah kembali
                Melupakan segala kenangan yang telah terukir

INDAHNYA


Ketika ku masuk
Aku merasa terpanggil
            Akupun mengintip dan membesarkan mata
            Memandang s’gala yang ada di sekelilingku
            Lalu lalang pengunjung yang tiada henti
            Manghalangi diriku yang tak sempurna ini
            Yang hanya dapat sekedar menangkap isyarat lewat kata-kata
Ku pandangi s’tiap sudut ruangan ini
Memandang s’mua yang masih tersisa
Yang menempel di s’tiap diding
Semuanya sangat mengagumkan
            Beragam benda telah kupandang
            Hingga sejarahpun telah bercerita kepadaku
            Tak ada satupun di tempat indah ini
            Yang mampu kutinggalkan
Namun waktu berkata lain
Aku harus pergi meninggalkan tempat ini
Meninggalkan s’galanya yang begitu indah
Sejuta harapan muncul dalam benakku
            Kembali kesini
            Sangatlah kunanti

SEPI


Ketika ku buka mataku
Kutatap s’galnya yang begitu indah
            Gemericik air
            Deru angin
            Yang menyejukkan hati
            Dan menemaniku yang tengah sepi ini
Burung-burung berkicau riang
Membuat hatiku kembali tenang
Sejuknya angin yang menusuk tubuhku
Menambah kenikmatan dalam hariku
            Burung-burung terbang menghilang
            Terbang melintas ke atas awan
            Hingga akhirnya hilang di telan matahari
            Kini tinggallah aku dan lembutnya gemericik air
Yang ‘kan selalu menemani hariku yang sepi ini

Saturday, 7 August 2010

Puisi " RINDU IBU "


Kami telah berpisah lama
Sejak tanah dilanda badai
Badai yang menghempas begitu kencang
Menghabiskan seluruh bumi dan isinya
Dan menghancurkan segala impian kami
            Sejak itu, jiwa gelisah
Selalu berjuang tanpa henti
Mencarimu disetiap waktuku
Namun kau tak terlihat juga
Semakin lama, hati semakin tak tenang
Gunung pelindung tak lagi dapat menghalang
Berontak hati ingin bertemu
Tuk meneruskan impian yang tertunda
            Tapi.. kini ku melihatmu
            Bagai bunga melati yang tumbuh di semak belukar
            Terhimpit.. Tertindas.. Terinjak-injak..
             Dan terabaikan.. 
Hatiku hancur, pikiranku kusut
Betapa menyesalnya diriku dengan keadaan ini
Namun menyesal kini tak ada arti
Hanya menambah luka di hati
            Semua yang terjadi
            Kubiarkan berlalu
            Kini ku bersyukur padaMu Tuhan
            Karna telah mempertemukan kami kembali
Kedua jiwa yang berpisah lama
Kini dapat bersatu kembali
Demi melanjutkan segala impian
Yang sempat terhenti karena jarak dan waktu