Nama : Daniella
Marsha
NPM : 52414524
Kelas : 1IA02
Fakultas : Teknologi
Industri
Jurusan : Teknik
Informatika
BAB I
PENDAHULUAN
Bengkulu adalah salah satu
provinsi yang ada di Indonesia dan kota. Bengkulu ini menjadi ibu kota dari
provinsi Bengkulu itu sendiri yang terletak di kawasan pesisir barat
Pulau Sumatera yang berhadapan langsung dengan Samudera Indonesia dan berada
pada koordinat 300 45’ – 300 59’ Lintang Selatan dan 102014’ – 1020 22’ Bujur
Timur dengan luas wilayah 151,7 km2 ditambah 1 pulau dengan luas 2 Ha dan
lautan seluas 387,6 Km2.
Suku-suku bangsa
yang mendiami Provinsi Bengkulu dapat dikelompokkan menjadi suku asli dan
pendatang, meskipun sekarang kedua kelompok ini mulai bercampur baur. Provinsi
Bengkulu memiliki kebudayaan dan adat istiadat yang diwarnai tiga rumpun suku
besar yaitu Suku Rejang yang berpusat di Kabupaten Rejang Lebong, Suku Serawai
yang berpusat di Kabupaten Bengkulu Selatan dan Suku Melayu berpusat di Kota
Bengkulu. Suku-suku pribumi mencakup:
4.
Lembak,
mendiami wilayah Kota Bengkulu dan Kabupaten Rejang Lebong;
6.
Besemah,
mendiami wilayah Kabupaten Bengkulu Selatan dan Kaur;
8.
Suku-suku
pribumi Enggano (ada enam puak), mendiami Pulau Enggano.
Suku bangsa
pendatang meliputi Melayu, Jawa (dari Banten), Bugis, Madura, Minangkabau, Batak, Sunda, dan
lain-lain. Oleh karena itu kebudayaan di Kota Bengkulu merupakan akulturasi
dari kebudayaan dan adat istiadat dari berbagai suku bangsa.
Selain itu pula
bahasa yang digunakan dalam pergaulan sehari-hari oleh mayoritas masyarakat
Kota Bengkulu yaitu bahasa Melayu Bengkulu, Bahasa Rejang, Bahasa Serawai,
Bahasa Pekal dan Bahasa Lembak.
Dari berbagai suku bangsa yang hidup
di Bengkulu tersebut, mayoritas penduduk asli berasal dari suku bangsa Rejang
dan Serawai yang sebagian besar berada di wilayah Kabupaten Bengkulu Selatan.
Karena suku Rejang telah menjadi bahan pembahasan dari rekan saya, maka pada
makalah ini saya memfokuskan untuk membahas mengenai suku Serawai, sebagai suku
terbesar kedua yang ada di Bengkulu dan juga sedikit mengenai suku Rejang.
Tujuan dari pembahasan tentang suku
bangsa di Bengkulu ini adalah untuk mengetahui dan mengenal lebih dalam
mengenai sejarah, asal usul, adat istiadat dan tradisi yang ada di suku-suku
tersebut. Selain itu juga untuk mengetahui tentang filosofi-filosofi kehidupan
suku bangsa tersebut yang berhubungan dengan sejarahnya sendiri. Dengan begitu
kita juga dapat mengetahui nilai-nilai positif dari tradisi dan kehidupan
masyarakat setempat, yang mungkin dapat menjadi contoh atau panutan bagi
masyarakat dari suku-suku atau provinsi-provinsi lainnya.
BAB II
SEJARAH DAN ASAL USUL
Suku Rejang adalah suku
terbesar dan salah
satu suku tertua di pulau Sumatera. Suku rejang diyakini berasal dari daerah
Sumatera bagian utara dan kemudian menyebar sampai ke daerah Lebong, kepahiang,
sampai di tepi sungai ulu musi di perbatasan dengan Sumatera Selatan. Suku
rejang terbanyak menempati Kabupaten rejang Lebong yang kini memekarkan diri
menjadi kabupaten Rejang Lebong, Kabupaten Lebong dan Kabupaten Kepahiang. Suku
Rejang menempati Bengkulu Utara, Lebong dan di kabupaten Rejang Lebong. Suku
ini merupakan terbesar di provinsi Bengkulu.
Asal usul suku Rejang hingga saat
ini masih belum diketahui secara jelas. Kisah-kisah mengenai suku Rejang sampai
saat ini hanya didasarkan pada keterangan-keterangan ahli Tembo dan Adat
Rejang. Menurut Tembo dan Adat Rejang, suku Rejang berasal dari Bedara Cina yang
datang ke Daerah Bengkulu melalui Pagarruyung dan menetap di suatu lembah
subur, yang kemudian mereka sebut Renah Sekalawi. Orang pertama yang memimpin
suku bangsa Rejang adalah Sutan
Sriduni. Leluhur suku Rejang berasal dari Mongolia, Cina Utara.
Gambar 1.1 Suku Rejang
Sejarah suku bangsa Rejang
dibagi menjadi dua bagian, yaitu sejarah Rejang Purba dan sejarah Rejang
Modern. Sejarah Rejang Purba dimulai dari masa kedatangan kelompok bangsa
Mongolia di Bintunan Bengkulu Utara pada tahun 2090 SM hingga sebelum
kedatangan para Ajai di pertengahan abad ke 14 masehi. Sejarah Rejang Modern
dimulai dari masa kedatangan dan kepemimpinan para ”Ajai” di Renah Skalawi (1348)
hingga sekarang.
Ada sebuah falsafah hidup
yang diterapkan suku Rejang yaitu pegong pakeui, adat cao beak nioa
pinang yang berartikan adat yang berpusat ibarat beneu.
Bertuntun ibarat jalai (jala ikan), menyebar ibarat jala,
tuntunannya satu. Jika sudah berkembang biak asalnya rejang tetap satu. Kenapa
ibarat beneu? Beneu ini satu pohon, tapi didahan
daunnya kait-mengait walaupun ada yang menyebar atau menjalar jauh. Walaupun
pergi ketempat yang jauh tapi tahu akan jalinan/hubungan kekeluargaannya. Bisa
kembali lagi darimana asal mereka berada. Pegong pakeui juga
mengajarkan bahwa kita sebagai manusia mempunyai hak yang sama. Jika kita
sama-sama memiliki, maka kita membaginya sama rata. Jika kita menakar
(membagi), misalnya membagi beras, kita menakarnya sama rata atau sama
banyaknya. Jika kita melakukan timbangan, beratnya harus sama berat. Itulah pegong
pakeui orang rejang. Amen bagiea' samo kedaou, ameun betimbang
samo beneug, amen betakea samo rato. Artinya jika membagi sama
banyak, jika menimbang sama berat, jika menakar sama rata.
Suku Serawai merupakan suku bangsa
kedua terbesar yang hidup di daerah Bengkulu. Sebagian besar masyarakat suku
Serawai berdiam di Kabupaten Bengkulu Selatan yakni di kecamatan Sukaraja,
Seluma, Talo Pino, Kelutum, Manna dan Seginim.
Dalam istilah daerah
Rejang, suku bangsa Serawai sering disebut Jang Sawei (Rejang Serawai). Dari
sini kita dapat mengetahui bahwa suku bangsa Rejang menganggap bahwa suku
bangsa Serawai merupakan salah satu pecahan dari Suku bangsa Rejang atau sejak
dulu sudah berasimilasi dengan suku bangsa Rejang. Hal ini mungkin ada
benarnya, banyak tarian adat suku bangsa Rejang yang memiliki banyak kesamaan
dengan tarian adat suku Serawai.
Kata Serawai sendiri masih
belum jelas artinya. Sebagian orang mengatakan bahwa Serawai berarti "satu
keluarga", hal ini tidak mengherankan apabila dilihat rasa persaudaraan
atau kekerabatan di antara orang-orang Serawai sangat kuat. Selain itu ada pula
tiga pendapat lain mengenai asal kata Serawai, yaitu :
a.
Serawai berasal dari kata Sawai yang berarti
Cabang. Cabang di sini maksudnya adalah cabang dua buah sungai yakni Sungai
Musi dan Sungai Seluma yang dibatasi oleh Bukit Campang;
b.
Serawai berasal dari kata Seran. Kata Seran sendiri
bernakna Celaka, hal ini dihubungkan dengan legenda anak raja dari hulu yang
dibuang karena terkena penyakit menular. Anak raja ini dibuang ke sungai dan
terdampar di muara dan disitulah anak raja tersebut membangun negeri.
c.
Serawai berasal dari kata Selawai yang berarti
Gadis atau Perawan. Pendapat ini mendasarkan diri pada ceritera yang mengatakan
bahwa suku bangsa Serawai adalah keturunan sepasang suami-isteri. Sang Suami
berasal dari Rejang Sabah (penduduk asli pesisir pantai Bengkulu) dan isterinya
adalah seorang puteri atau gadis yang berasal dari Lebong. Dalam bahasa Lebong,
puteri atau gadis disebut Selawai. Kedua suami-isteri ini kemudian
beranak-pinak dan mendirikan kerajaan kecil yang oleh orang Lebong dinamakan
Selawai.
Berdasarkan
cerita para orang tua, suku bangsa Serawai berasal dari leluhur yang bernama
Serunting Sakti bergelar Si Pahit Lidah. Asal usul Serunting Sakti sendiri
masih gelap, sebagian orang mengatakan bahwa Serunting Sakti berasal dari suatu
daerah di Jazirah Arab, yang datang ke Bengkulu melalui kerajaan Majapahit. Di
Majapahit, Serunting Sakti meminta sebuah daerah untuk didiaminya, dan oleh
Raja Majapahit dia diperintahkan untuk memimpin di daerah Bengkulu Selatan. Ada
pula yang berpendapat bahwa Serunting Sakti berasal dari langit, ia turun ke
bumi tanpa melalui rahim seorang ibu. Selain itu, ada pula yang berpendapat
bahwa Serunting Sakti adalah anak hasil hubungan gelap antara Puyang Kepala
Jurai dengan Puteri Tenggang.
Putera
Serunting Sakti yang bernama Serampu Sakti mempunyai 13 orang putera yang
tersebar di seluruh tanah Serawai. Serampu Sakti dengan anak-anaknya ini
dianggap sebagai cikal-bakal suku Serawai. Putera ke 13 Serampu Sakti yang
bernama Rio Icin bergelar Puyang Kelura mempunyai keturunan sampai ke Lematang
Ulu dan Lintang.
Dalam
tatanan sosiologi masyarakat yang memilki beragam suku dan bahasa masyarakat
Kota Bengkulu mempunyai Falsafah hidup "Sekundang setungguan Seio
Sekato" merupakan motto kebijakan yang menyangkut kepentingan bersama
sering kita dengar dalam bahasa pantun "Ke bukit Samo Mendaki, Ke lurah
Samo Menurun, Yang Berat Samo Dipikul, Yang Ringan Samo Dijinjing",
artinya dalam membangun, pekerjaan seberat apapun jika sama-sama dikerjakan
bersama akan terasa ringan juga. Selain itu ada pula” Bulek air kek pembuluh,
bulek kato kek mufakat” artinya bersatu air dengan bambu, bersatunya pendapat
dengan musyawarah. Falsafah hidup ini mampu meningkatkan kerukunan dan kualitas
membangun kerja sama diantara masyarakat Kota Bengkulu, sehingga ketika mereka
berbaur masih tetap bisa bekerja sama meskipun berbeda suku dan bahasa.
BAB III
TRADISI SUKU
Provinsi
Bengkulu memiliki kebudayaan dan adat istiadat yang diwarnai tiga rumpun suku
besar yaitu Suku Rejang yang berpusat di Kabupaten Rejang Lebong, Suku Serawai
yang berpusat di Kabupaten Bengkulu Selatan dan Suku Melayu berpusat di Kota
Bengkulu.
Kota
Bengkulu sebagai Ibukota Provinsi sejak dahulu telah didatangi dan didiami oleh
berbagai suku bangsa dari berbagai daerah baik dari luar Provinsi maupun dari
kabupaten lainnya yang ada di Provinsi Bengkulu, antara lain ;Suku Melayu,
Rejang, Serawai, Lembak, Bugis, Minang, Batak dan lain-lain, oleh karena itu
kebudayaan di Kota Bengkulu merupakan akulturasi dari kebudayaan dan adat
istiadat dari berbagai suku bangsa.
![]() |
Gambar 3.1 upacara adat Tabot
Salah satu upacara tradisional adalah upacara "TABUT" yang sekarang populer dengan nama “TABOT” yaitu suatu perayaan tradisional yang dilaksanakan dari tanggal 1 sampai dengan tanggal 10 Muharram setiap tahunnya, untuk memperingati gugurnya Hasan dan Husen cucu Nabi Muhammad SAW oleh keluarga Yalid dari kaum Syiah, dalam peperangan di Karbala, Irak pada tahun 61 Hijriah. Tradisi Tabot dibawa oleh para pekerja Islam Syi‘ah dari Madras dan Bengali, India bagian selatan, yang dibawa oleh tentara Inggris untuk membangun Benteng Marlborough (1713—1719). Mereka kemudian menikah dengan penduduk setempat dan meneruskan tradisi ini hingga ke anak-cucunya.
Selain
itu kesenian yang biasa dilaksanakan seperti Kesenian Gamat yang merupakan
musik tradisional iramanya mirip Melayu
Deli dan di sertai pantun-pantun, Kesenian Gambus yang merupakan jenis musik
umumnya berirama padang pasir, Kesenian Dendang biasanya dilaksanakan pada
upacara perkawinan. Dendang adalah nyanyian –nyanyian yang di iringi oleh musik
rebana .Jenis dendang antara lain;Senandung Gunung, Ketapang, Rampai- rampai
dll.

Gambar 3.2 Kain Batik Besurek
Suku
Rejang yang merupakan suku dengan populasi terbesar di provinsi Bengkulu tidak
adaptif terhadap perkembangan di luar daerah. Ini dikarenakan kultur masyarakat
Rejang yang sulit untuk menerima pendapat di luar dari pendapat kelaziman
menurut pendapat mereka, dan ini menjadi bukti keyakinan dan ketaatan mereka
terhadap adat-istiadat yang berlaku sejak dahulu kala. Hal ini menggambarkan
bahwa sejak zaman dahulu suku Rejang telah memiliki adat-istiadat. Karena
mayoritas suku Rejang masih mempertahankan kebudayaan mereka, tidak heran jika
hukum adat yang berupa denda dan cuci kampung masih dipertahankan hingga
sekarang. Suku Rejang sangat memuliakan harga diri, seperti halnya penjagaan
martabat kaum perempuan, penghinaan terhadap para pencuri, dan penyiksaan dan
pemberian hukum denda terhadap pelaku zina. Dikarenakan kesesuaian tradisi
Rejang dengan ajaran Islam, suku Rejang telah mengubah kepercayaan terdahulu
mereka ke ajaran agama Islam. Hingga saat ini, budaya mereka juga identik
dengan nuansa Islam.
Pada
zaman sekarang, sudah banyak putra-putri suku Rejang telah menempuh pendidikan
tinggi seperti ilmu pendidikan keguruan, ilmu kesehatan, ilmu hukum, ilmu
ekonomi, sastra, dan lain-lain. Banyak yang telah menekuni profesi
sebagaipegawai negeri, pejabat teras, dokter, pegawai swasta, pengacara,
polisi, dan berbagai profesi yang memiliki kehormatan menurut masyarakat modern
pada era sekarang ini.
UPACARA
PERKAWINAN
Upacara
perkawinan suku bangsa Lembak secara umum yang berada diBengkulu dan khususnya
yang bertempat tinggal di Kota Bengkulu pada dasarnya sama, dengan tingkatan
urut-urutan sebagai berikut:
(1)
Upacara sebelum perkawinan, kegitatan yang dilakukan mulai dari menindai
(melihat kecocokan), betanye (bertanya), Ngatat Tande atau memadu rasan
(berasan), dan Bertunangan (Makan Ketan),
(2)
Upacara Perkawinan (Kerje/Bapelan), merupakan urutan kegiatan mulai memilih macam
bimbang, Arai Pekat (Kenduri Sekulak), Menikah, Malam Napa, Arai Becerita
(Walimahan), dan sampai akhirnya menyalang (nyalang).
BAB IV
KESIMPULAN
Bengkulu
adalah salah satu provinsi dan atau kota yang ada di Indonesia. Bengkulu ini
menjadi ibu kota dari provinsi Bengkulu itu sendiri. Suku-suku bangsa yang mendiami
Provinsi Bengkulu dapat dikelompokkan menjadi
suku asli dan pendatang, meskipun sekarang kedua kelompok ini mulai bercampur
baur. Provinsi Bengkulu memiliki kebudayaan dan adat istiadat yang diwarnai
tiga rumpun suku besar yaitu Suku Rejang, Suku Serawai dan Suku Melayu.
Suku-suku pribumi mencakup Rejang, Serawai, Mukomuko, Pekal, Lembak, Besemah,
Kaur, Enggano. Suku bangsa pendatang meliputi Melayu, Jawa (dari Banten), Bugis, Madura, Minangkabau, Batak, Sunda, dan lain-lain. Oleh
karena itu kebudayaan di Kota Bengkulu merupakan akulturasi dari kebudayaan dan
adat istiadat dari berbagai suku bangsa.
Tujuan dari pembahasan tentang suku bangsa di Bengkulu
ini adalah untuk mengetahui dan mengenal lebih dalam mengenai sejarah, asal
usul, adat istiadat dan tradisi yang ada di suku-suku tersebut. Selain itu juga
untuk mengetahui tentang filosofi-filosofi kehidupan suku bangsa tersebut yang
berhubungan dengan sejarahnya sendiri. Dengan begitu kita juga dapat mengetahui
nilai-nilai positif dari tradisi dan kehidupan masyarakat setempat, yang
mungkin dapat menjadi contoh atau panutan bagi masyarakat dari suku-suku atau
provinsi-provinsi lainnya.
Menurut Tembo dan Adat
Rejang, suku Rejang berasal dari Bedara Cina yang datang ke Daerah Bengkulu
melalui Pagarruyung dan menetap di suatu lembah subur, yang kemudian mereka
sebut Renah Sekalawi. Sedangkan suku bangsa Serawai berasal
dari leluhur yang bernama Serunting Sakti bergelar Si Pahit Lidah. Asal usul
Serunting Sakti sendiri masih gelap, sebagian orang mengatakan bahwa Serunting
Sakti berasal dari suatu daerah di Jazirah Arab, yang datang ke Bengkulu
melalui kerajaan Majapahit. Putera Serunting Sakti yang bernama Serampu Sakti mempunyai
13 orang putera yang tersebar di seluruh tanah Serawai. Serampu Sakti dengan
anak-anaknya ini dianggap sebagai cikal-bakal suku Serawai.
Kota
Bengkulu mempunyai Falsafah hidup "Sekundang setungguan Seio Sekato" merupakan
motto kebijakan yang menyangkut kepentingan bersama sering kita dengar dalam
bahasa pantun "Ke bukit Samo Mendaki, Ke lurah Samo Menurun, Yang Berat
Samo Dipikul, Yang Ringan Samo Dijinjing", artinya dalam membangun,
pekerjaan seberat apapun jika sama-sama dikerjakan bersama akan terasa ringan
juga. Selain itu ada pula” Bulek air kek pembuluh, bulek kato kek mufakat”
artinya bersatu air dengan bambu, bersatunya pendapat dengan musyawarah.
Falsafah hidup ini mampu meningkatkan kerukunan dan kualitas membangun kerja
sama diantara masyarakat Kota Bengkulu, sehingga ketika mereka berbaur masih
tetap bisa bekerja sama meskipun berbeda suku dan bahasa.
Kota
Bengkulu sebagai Ibukota Provinsi sejak dahulu telah didatangi dan didiami oleh
berbagai suku bangsa dari berbagai daerah baik dari luar Provinsi maupun dari
kabupaten lainnya yang ada di Provinsi Bengkulu. Oleh karena itu kebudayaan di
Kota Bengkulu merupakan akulturasi dari kebudayaan dan adat istiadat dari
berbagai suku bangsa.
Budaya
yang cukup akrab dengan masyarakat Bengkulu, di antaranya: Kesenian Gamat,
Kesenian Gambus, Kesenian Dendang, Kain Bersurek (merupakan kain bertuliskan
huruf Arab gundul). Upacara adat juga banyak dilakukan masyarakat di Provinsi
Bengkulu seperti, upacara adat Tabot, upacara adat perkawinan, upacara mencukur
rambut anak yang baru lahir.
Kultur
masyarakat Rejang sulit untuk menerima pendapat di luar dari pendapat kelaziman
menurut pendapat mereka, dan ini menjadi bukti keyakinan dan ketaatan mereka
terhadap adat-istiadat yang berlaku sejak dahulu kala. Hal ini menggambarkan
bahwa sejak zaman dahulu suku Rejang telah memiliki adat-istiadat. Karena
mayoritas suku Rejang masih mempertahankan kebudayaan mereka, tidak heran jika
hukum adat yang berupa denda dan cuci kampung masih dipertahankan hingga
sekarang. Suku Rejang sangat memuliakan harga diri, seperti halnya penjagaan
martabat kaum perempuan, penghinaan terhadap para pencuri, dan penyiksaan dan
pemberian hukum denda terhadap pelaku zina.
DAFTAR PUSTAKA


