Nama : Daniella
Marsha
NPM : 52414524
Kelas : 1IA02
Fakultas : Teknologi
Industri
Jurusan : Teknik
Informatika
BAB I
PENDAHULUAN
Kabupaten
Tapanuli Selatan (Tapsel) di Sumatera Utara (Sumut), dikenal sebagai daerah
dengan mayoritas penduduknya muslim. Dari sekitar 728.799 ribu penduduknya,
sebanyak 90 persen beragama Islam. Nuansa Islam terakumulasi sebagai adat,
mulai dari adat perkawinan, masuk rumah, khitanan hingga mengantar jemaah haji.
Keidentikannya dengan
budaya Islam membuat banyak yang yang tak percaya ketika mengetahui ternyata di
kabupaten ini terdapat peninggalan Candi Budha. Tidak hanya 1, melainkan ada 16
candi di kabupaten ini. Keseluruhannya di Situs Purbakala Padang Lawas yang
tersebar di empat kecamatan, Barumun, Barumun Tengah, Sosa dan Padang Bolak.
Candi yang juga dikenal
dengan nama Biaro Bahal atau Candi Portibi adalah kompleks candi Buddha aliran
Vajrayana yang terletak di Desa Bahal, Kecamatan Padang Bolak, Portibi,
Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, yaitu sekitar 3 jam perjalanan dari
Padangsidempuan atau berjarak sekitar 400 km dari Kota Medan. Candi
ini terbuat dari bahan bata merah dan diduga berasal dari sekitar abad ke-11
dan dikaitkan dengan Kerajaan Pannai, salah satu pelabuhan di pesisir Selat
Malakayang ditaklukan dan menjadi bagian dari mandala Sriwijaya.
Arkeolog asal Jerman F.M
Schnitger yang berkunjung tahun 1935 menyimpulkan, candi itu peninggalan
Kerajaan Pannai. Sumber sejarahnya berasal dari prasasti berbahasa Tamil
berangka tahun 1025 dan 1030 Saka yang dibuat Raja Rajendra Cola I, di India
Selatan. Rajendra berhasil menaklukkan Kerajaan Sriwijaya dan beberapa kerajaan
lainnya temasuk Kerajaan Pannai. Keberadaan Kerajaan Pannai tercatat dalam
Kitab Nagarakertagama, naskah kuno Kerajaan Majapahit tulisan Empu Prapanca
tahun 1365 Saka.
Candi ini diberi nama
berdasarkan nama desa tempat bangunan ini berdiri. Selain itu nama Portibi dalam bahasa Batak berarti
'dunia' atau 'bumi' istilah serapan yang berasal dari bahasa sansekerta: Pertiwi(dewi Bumi).
Dari candi ini tidak hanya didapatkan wisata sejarah
saja, namun juga wisata religi. Candi ini memiliki arca dua agama yang berbeda
yaitu Hindu dan Buddha. Dengan adanya arca ini, seakan mengingatkan kita untuk
saling menghormati atas perbedaan keyakinan yang dianut. Pada perayaan hari
besar Waisak, beberapa umat Buddha, berkumpul di candi ini untuk memanjatkan
doa. Sedangkan bagi umat Hindu, Anda juga bisa melihat keindahan Arca Gayatri
yang merupakan bagian dari arca agama Hindu yang ada di Candi Bahal ini.
BAB II
TIPOLOGI CANDI & KEARIFAN LOKAL DALAM BANGUNAN
Candi
ini merupakan kompleks candi (dalam istilah setempat disebut biaro) yang
terluas di provinsi Sumatera Utara, karena arealnya melingkupi kompleks Candi
Bahal I, Bahal II dan Bahal III. Arsitektur bangunan candi ini hampir serupa
dengan Candi Jabung yang ada Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Seluruh bangunan di ketiga kompleks candi dibuat
dari bata merah, kecuali arca-arcanya yang terbuat dari batu keras.
Masing-masing kompleks candi dikelilingi oleh pagar setinggi dan setebal
sekitar 1 m yang juga terbuat dari susunan bata merah. Di sisi timur terdapat
gerbang yang menjorok keluar dan di kanan-kirinya diapit oleh dinding setinggi
sekitar 60 cm. Di setiap kompleks candi terdapat bangunan utama yang terletak
di tengah halaman dengan pintu masuk tepat menghadap ke gerbang.
Bahal I
Candi
Bahal 1 dibangun di pelataran seluas sekitar 3000 m² yang dikelilingi pagar
dari susunan batu merah setinggi 60 cm. Dinding pagar tersebut cukup tebal,
yaitu sekitar 1 m. Bangunan utama Candi Bahal I terletak di tengah halaman,
menghadap ke gerbang. Di antara bangunan utama dan pintu gerbang terdapat
pondasi batur atau panggung berbentuk dasar bujur sangkar berukuran sekitar 7 x
7 m. Bangunan utama Candi Bahal I merupakan yang terbesar dibandingkan dengan
bangunan utama Candi Bahal II dan II. Bangunan utama ini terdiri atas susunan
alas atau tatakan, kaki, tubuh dan atap candi. Tatakan candi berdenah dasar
bujur sangkar seluas sekitar 7 meter persegi dengan tinggi sekitar 180 cm. Di
atas tatakan berdiri kaki candi setinggi 75 cm, dengan denah dasar berbentuk
bujur sangkar seluas 6 meter persegi.
Candi
Bahal I menghadap ke Timur, di pertengahan sisi timur, tepat di depan tangga
naik ke kaki permukaan candi, tatakan candi menjorok ke luar sepanjang sekitar
4 meter dengan lebar sekitar 2 m. Di ujung pelataran memanjang tersebut
terdapat tangga yang diapit oleh sepasang kepala makara di pangkalnya.
Sepanjang sisi utara dan selatan dinding jalan pelataran menuju tatakan
terdapat pahatan berbentuk orang dalam berbagai posisi. Walaupun banyak bagian
pahatan yang sudah rusak, masih terlihat bentuk orang yang tampak seperti
sedang menari. Di sepanjang sisi timur atau depan tatakan terdapat pahatan berbentuk
raksasa yang sedang duduk.
Tubuh
candi berupa bangunan bersegi empat dengan alas berbentuk bujur sangkar seluas
5 meter persegi. Selisih luas tubuh candi dengan permukaan kaki candi membentuk
selasar selebar sekitar 1 m. Untuk mencapai pintu masuk ke ruang di dalam tubuh
candi terdapat tangga setinggi sekitar 60 cm dari permukaan kaki candi. Dalam
tubuh candi terdapat ruangan kosong berukuran sekitar 3 meter persegi yang
dikelilingi dinding setebal sekitar 1 meter. Lebar ambang pintu masuk sekitar 120
x 250 cm. Tidak terdapat pahatan yang menghiasi bingkai pintu. Atap Candi Bahal
I berbentuk dagoba, yaitu stupa berbentuk silinder, dengan tinggi sekitar 2,5
meter. Pahatan untaian bunga melingkari tepian atap.
Bahal II
Candi
Bahal II terletak sekitar 100 meter dari jalan dan sekitar 300 meter dari Candi
Bahal I. Pelataran Candi Bahal II sama luasnya dengan pelataran Candi Bahal I
dan juga dikelilingi pagar bata, akan tetapi ukuran bangunan utamanya lebih
kecil dari bangunan utama Candi Bahal I. Pada pertengahan sisi timur, dinding
halaman melebar, membentuk lantai yang menjorok sekitar 4 m ke arah luar
halaman candi. Dinding setinggi sekitar 70 cm mengapit sisi kanan dan kiri
lantai tersebut sampai ke batas tangga yang terdapat sisi timur.
Tatakan
candi berdenah dasar bujur sangkar seluas sekitar 6 meter persegi dan setinggi
sekitar 1 meter. Di depan pangkal tangga bangunan utama terdapat sepasang
kepala makara dengan mulut terbuka. Di atas tatakan berdiri kaki candi setinggi
75 cm, dengan denah dasar berbentuk bujur sangkar seluas 5 meter persegi. Dalam
tubuh Candi Bahal II juga terdapat ruangan kosong berukuran sekitar 3 meter
persegi, dikelilingi dinding setebal sekitar 1 meter. Pintu masuk selebar
sekitar 120 x 250 cm menghadap ke timur tanpa pahatan hiasan apapun pada
bingkainya. Dinding tatakan, kaki dan tubuh candi juga polos tanpa hiasan
pahatan. Atap Candi Bahal II berbentuk limas dengan puncak persegi empat.
Di
Candi Bahal II ini dulunya ditemukan arca Heruka, yaitu arca raksasa yang
digambabarkan sedang menari-nari di atas mayat dan memegang mangkuk tempurung
kepala manusia. Arca Heruka memiliki karakter yang tidak bisa ditemui di
candi-candi lain di pelosok negeri yang umumnya menggambarkan karakter mulia
dan bijaksana.
Bahal III
Candi
Bahal II berjarak sekitar 100 meter dari jalan, namun untuk mencapai lokasi
Candi Bahal III pengunjung harus melalui jalan setapak, pematang sawah dan
perumahan penduduk. Terdapat banyak kemiripan antara Candi Bahal III dan kedua
candi Bahal lainnya. Gerbang untuk masuk ke halaman juga terletak di sisi
timur. Gerbang Candi Bahal III lebih mirip dengan gerbang Candi Bahal I, karena
tangga naik ke gerbang terletak di sisi utara dan selatan. Tangga di gerbang
Candi Bahal II terletak di timur.
Ukuran
dan bentuk bangunan utama Candi Bahal III sangat mirip dengan bangunan utama
Candi Bahal II. Pintu masuk ke ruangan dalam tubuh candi juga terletak di
timur. Tidak terdapat pahatan pada bingkai pintu, namun sepanjang dinding
tatakan dihiasi pahatan dengan motif yang mirip bunga. Atap Candi Bahal II
berbentuk limas dengan puncak persegi empat. Mirip dengan atap Candi Bahal II.
Para
peneliti mengungkapkan bahwa candi di desa Bahal ini adalah tiga di antara 26
runtuhan candi yang tersebar seluas 1.500 km² di situs percandian Padanglawas,
yang berarti candi-candi yang terletak di padang luas yang mencakup, di
antaranya:
1. Candi
Pulo
2. Candi
Barumun
3. Candi
Singkilon
4. Candi
Sipamutung
5. Candi
Aloban
6. Candi
Rondaman Dolok
7. Candi
Bara
8. Candi
Magaledang
9. Candi
Sitopayan
10. Candi
Nagasaribu.
Walau
berdiri di bukit kecil dan dikelilingi lembah berupa lahan persawahan, Candi
Bahal I tidak selalu sepi. Masyarakat sekitar, memang tahu kalau di situ ada
komplek percandian. Namun, tiap harinya bisa dikatakan tidak ada pengunjung.
Bisa dimaklumi karena angkutan umum ke komplek candi ini relatif jarang dan
memakan waktu. Dari Medan, terpaksa tiga kali naik angkutan, Medan – Padang
Sidempuan, Padang Sidempuan – Padang Bolak serta Padang Bolak - Desa Bahal,
dengan waktu sekitar 12 jam.
|
Gambar 2.1 Candi
Bahal II
|
|
Gambar 2.2 Candi
Bahal III
|
Nashiruddin,
seorang penduduk setempat mengatakan bahwa candi ini hanya ramai saat Lebaran
atau Tahun Baru, itupun karena ada hiburan keyboard, dan biasanya dikutip Rp 2.000,-
per orang. Kalau hari biasa, biasanya hanya ada anak-anak muda sekitar kampung
yang sedang berpacaran. Pengunjung dalam sebulannya paling banyak 20 orang saja,
sedangkan turis asing sudah lama tidak ada.Kendati merupakan kawasan wisata
sejarah, tidak terlihat jejeran kios penjual makanan atau souvenir. Di luar
hari libur besar, Candi Bahal I hanya berupa bangunan rapuh setinggi 12,8 meter
dengan bayangan hitamnya di siang hari serta aliran Sungai Batang Panai sekitar
50 meter di bawahnya.
BAB III
KESIMPULAN
Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) di Sumatera
Utara (Sumut), dikenal sebagai daerah dengan mayoritas penduduknya muslim. Keidentikannya dengan
budaya Islam membuat banyak yang yang tak percaya ketika mengetahui ternyata di
kabupaten ini terdapat peninggalan Candi Budha.
Candi
yang juga dikenal dengan nama Biaro Bahal atau Candi Portibi adalah kompleks
candi Buddha aliran Vajrayana yang terletak di Desa Bahal, Kecamatan Padang
Bolak, Portibi, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Candi ini terbuat
dari bahan bata merah dan diduga berasal dari sekitar abad ke-11 dan dikaitkan
dengan Kerajaan Pannai, salah satu pelabuhan di pesisir Selat Malakayang
ditaklukan dan menjadi bagian dari mandala Sriwijaya.
Walau berdiri di bukit kecil dan dikelilingi lembah
berupa lahan persawahan, Candi Bahal I tidak selalu sepi. Masyarakat sekitar,
memang tahu kalau di situ ada komplek percandian. Namun, tiap harinya bisa
dikatakan tidak ada pengunjung. Bisa dimaklumi karena angkutan umum ke komplek
candi ini relatif jarang dan memakan waktu sekitar 12 jam.
Meskipun demikian, candi
yang juga merupakan peninggalan atau bukti nyata dari sejarah Indonesia ini
harus tetap dijaga, dirawat, dan juga dilestarikan. Bangunan kuno nan indah
ini, tidaklah dibangun semata-mata hanya sebagai sarana objek wisata saja, akan
tetapi juga mengandung berbagai filosofi dan makna kehidupan lainnya. Mulai
dari letak bangunan, struktur bangunan, arca atau pahatan-pahatan relief yang
ada, dan lain sebagainya.
Oleh sebab itu, dari candi
ini tidak hanya didapatkan wisata sejarahnya saja, namun juga wisata hiburan dan religi. Candi ini memiliki arca dua agama
yang berbeda yaitu Hindu dan Buddha. Dengan adanya arca ini, seakan
mengingatkan kita untuk saling menghormati atas perbedaan keyakinan yang
dianut.
Semoga di masa yang akan
dating, seluruh candi atau berbagai macam bentuk peninggalan sejarah yang ada
di Indonesia dapat lebih dilestarikan dan diperindah lagi. Serta akses menuju
lokasinya juga semoga dapat dipermudah, sehingga mampu menarik pengunjung /
wisatawan yang lebih banyak lagi, baik dari pribumi maupun turis asing. Terutama
bagi peninggalan-peninggalan sejarah yang kurang dikenal oleh masyarakat lokal
maupun masyarakat asing. Karena walau bagaimanapun bangunan / benda-benda bersejarah
tersebut memiliki kaitan yang begitu erat dengan sejarah Negara kita sendiri di
masa yang lalu.
DAFTAR PUSTAKA



No comments:
Post a Comment