Monday, 22 June 2015

Candi / Biaro Bahal - Tapanuli Selatan


                         Nama     : Daniella Marsha
                         NPM       : 52414524
                         Kelas      : 1IA02
                         Fakultas : Teknologi Industri
                         Jurusan : Teknik Informatika


BAB I
PENDAHULUAN
Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) di Sumatera Utara (Sumut), dikenal sebagai daerah dengan mayoritas penduduknya muslim. Dari sekitar 728.799 ribu penduduknya, sebanyak 90 persen beragama Islam. Nuansa Islam terakumulasi sebagai adat, mulai dari adat perkawinan, masuk rumah, khitanan hingga mengantar jemaah haji.

Keidentikannya dengan budaya Islam membuat banyak yang yang tak percaya ketika mengetahui ternyata di kabupaten ini terdapat peninggalan Candi Budha. Tidak hanya 1, melainkan ada 16 candi di kabupaten ini. Keseluruhannya di Situs Purbakala Padang Lawas yang tersebar di empat kecamatan, Barumun, Barumun Tengah, Sosa dan Padang Bolak.

Candi yang juga dikenal dengan nama Biaro Bahal atau Candi Portibi adalah kompleks candi Buddha aliran Vajrayana yang terletak di Desa Bahal, Kecamatan Padang Bolak, Portibi, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, yaitu sekitar 3 jam perjalanan dari Padangsidempuan atau berjarak sekitar 400 km dari Kota Medan. Candi ini terbuat dari bahan bata merah dan diduga berasal dari sekitar abad ke-11 dan dikaitkan dengan Kerajaan Pannai, salah satu pelabuhan di pesisir Selat Malakayang ditaklukan dan menjadi bagian dari mandala Sriwijaya.

Arkeolog asal Jerman F.M Schnitger yang berkunjung tahun 1935 menyimpulkan, candi itu peninggalan Kerajaan Pannai. Sumber sejarahnya berasal dari prasasti berbahasa Tamil berangka tahun 1025 dan 1030 Saka yang dibuat Raja Rajendra Cola I, di India Selatan. Rajendra berhasil menaklukkan Kerajaan Sriwijaya dan beberapa kerajaan lainnya temasuk Kerajaan Pannai. Keberadaan Kerajaan Pannai tercatat dalam Kitab Nagarakertagama, naskah kuno Kerajaan Majapahit tulisan Empu Prapanca tahun 1365 Saka.

Candi ini diberi nama berdasarkan nama desa tempat bangunan ini berdiri. Selain itu nama Portibi dalam bahasa Batak berarti 'dunia' atau 'bumi' istilah serapan yang berasal dari bahasa sansekerta: Pertiwi(dewi Bumi).

Dari candi ini tidak hanya didapatkan wisata sejarah saja, namun juga wisata religi. Candi ini memiliki arca dua agama yang berbeda yaitu Hindu dan Buddha. Dengan adanya arca ini, seakan mengingatkan kita untuk saling menghormati atas perbedaan keyakinan yang dianut. Pada perayaan hari besar Waisak, beberapa umat Buddha, berkumpul di candi ini untuk memanjatkan doa. Sedangkan bagi umat Hindu, Anda juga bisa melihat keindahan Arca Gayatri yang merupakan bagian dari arca agama Hindu yang ada di Candi Bahal ini.


Candi Bahal atau Candi Portibi Peninggalan Sejarah Berharga Yang Ada Di Paluta
Gambar 1 Candi Bahal I



BAB II
TIPOLOGI CANDI & KEARIFAN LOKAL DALAM BANGUNAN

Candi ini merupakan kompleks candi (dalam istilah setempat disebut biaro) yang terluas di provinsi Sumatera Utara, karena arealnya melingkupi kompleks Candi Bahal I, Bahal II dan Bahal III. Arsitektur bangunan candi ini hampir serupa dengan Candi Jabung yang ada Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Seluruh bangunan di ketiga kompleks candi dibuat dari bata merah, kecuali arca-arcanya yang terbuat dari batu keras. Masing-masing kompleks candi dikelilingi oleh pagar setinggi dan setebal sekitar 1 m yang juga terbuat dari susunan bata merah. Di sisi timur terdapat gerbang yang menjorok keluar dan di kanan-kirinya diapit oleh dinding setinggi sekitar 60 cm. Di setiap kompleks candi terdapat bangunan utama yang terletak di tengah halaman dengan pintu masuk tepat menghadap ke gerbang.

Bahal I

Candi Bahal 1 dibangun di pelataran seluas sekitar 3000 m² yang dikelilingi pagar dari susunan batu merah setinggi 60 cm. Dinding pagar tersebut cukup tebal, yaitu sekitar 1 m. Bangunan utama Candi Bahal I terletak di tengah halaman, menghadap ke gerbang. Di antara bangunan utama dan pintu gerbang terdapat pondasi batur atau panggung berbentuk dasar bujur sangkar berukuran sekitar 7 x 7 m. Bangunan utama Candi Bahal I merupakan yang terbesar dibandingkan dengan bangunan utama Candi Bahal II dan II. Bangunan utama ini terdiri atas susunan alas atau tatakan, kaki, tubuh dan atap candi. Tatakan candi berdenah dasar bujur sangkar seluas sekitar 7 meter persegi dengan tinggi sekitar 180 cm. Di atas tatakan berdiri kaki candi setinggi 75 cm, dengan denah dasar berbentuk bujur sangkar seluas 6 meter persegi.

Candi Bahal I menghadap ke Timur, di pertengahan sisi timur, tepat di depan tangga naik ke kaki permukaan candi, tatakan candi menjorok ke luar sepanjang sekitar 4 meter dengan lebar sekitar 2 m. Di ujung pelataran memanjang tersebut terdapat tangga yang diapit oleh sepasang kepala makara di pangkalnya. Sepanjang sisi utara dan selatan dinding jalan pelataran menuju tatakan terdapat pahatan berbentuk orang dalam berbagai posisi. Walaupun banyak bagian pahatan yang sudah rusak, masih terlihat bentuk orang yang tampak seperti sedang menari. Di sepanjang sisi timur atau depan tatakan terdapat pahatan berbentuk raksasa yang sedang duduk.

Tubuh candi berupa bangunan bersegi empat dengan alas berbentuk bujur sangkar seluas 5 meter persegi. Selisih luas tubuh candi dengan permukaan kaki candi membentuk selasar selebar sekitar 1 m. Untuk mencapai pintu masuk ke ruang di dalam tubuh candi terdapat tangga setinggi sekitar 60 cm dari permukaan kaki candi. Dalam tubuh candi terdapat ruangan kosong berukuran sekitar 3 meter persegi yang dikelilingi dinding setebal sekitar 1 meter. Lebar ambang pintu masuk sekitar 120 x 250 cm. Tidak terdapat pahatan yang menghiasi bingkai pintu. Atap Candi Bahal I berbentuk dagoba, yaitu stupa berbentuk silinder, dengan tinggi sekitar 2,5 meter. Pahatan untaian bunga melingkari tepian atap.

Bahal II

Candi Bahal II terletak sekitar 100 meter dari jalan dan sekitar 300 meter dari Candi Bahal I. Pelataran Candi Bahal II sama luasnya dengan pelataran Candi Bahal I dan juga dikelilingi pagar bata, akan tetapi ukuran bangunan utamanya lebih kecil dari bangunan utama Candi Bahal I. Pada pertengahan sisi timur, dinding halaman melebar, membentuk lantai yang menjorok sekitar 4 m ke arah luar halaman candi. Dinding setinggi sekitar 70 cm mengapit sisi kanan dan kiri lantai tersebut sampai ke batas tangga yang terdapat sisi timur.

Tatakan candi berdenah dasar bujur sangkar seluas sekitar 6 meter persegi dan setinggi sekitar 1 meter. Di depan pangkal tangga bangunan utama terdapat sepasang kepala makara dengan mulut terbuka. Di atas tatakan berdiri kaki candi setinggi 75 cm, dengan denah dasar berbentuk bujur sangkar seluas 5 meter persegi. Dalam tubuh Candi Bahal II juga terdapat ruangan kosong berukuran sekitar 3 meter persegi, dikelilingi dinding setebal sekitar 1 meter. Pintu masuk selebar sekitar 120 x 250 cm menghadap ke timur tanpa pahatan hiasan apapun pada bingkainya. Dinding tatakan, kaki dan tubuh candi juga polos tanpa hiasan pahatan. Atap Candi Bahal II berbentuk limas dengan puncak persegi empat.

Di Candi Bahal II ini dulunya ditemukan arca Heruka, yaitu arca raksasa yang digambabarkan sedang menari-nari di atas mayat dan memegang mangkuk tempurung kepala manusia. Arca Heruka memiliki karakter yang tidak bisa ditemui di candi-candi lain di pelosok negeri yang umumnya menggambarkan karakter mulia dan bijaksana.

Bahal III

Candi Bahal II berjarak sekitar 100 meter dari jalan, namun untuk mencapai lokasi Candi Bahal III pengunjung harus melalui jalan setapak, pematang sawah dan perumahan penduduk. Terdapat banyak kemiripan antara Candi Bahal III dan kedua candi Bahal lainnya. Gerbang untuk masuk ke halaman juga terletak di sisi timur. Gerbang Candi Bahal III lebih mirip dengan gerbang Candi Bahal I, karena tangga naik ke gerbang terletak di sisi utara dan selatan. Tangga di gerbang Candi Bahal II terletak di timur.

Ukuran dan bentuk bangunan utama Candi Bahal III sangat mirip dengan bangunan utama Candi Bahal II. Pintu masuk ke ruangan dalam tubuh candi juga terletak di timur. Tidak terdapat pahatan pada bingkai pintu, namun sepanjang dinding tatakan dihiasi pahatan dengan motif yang mirip bunga. Atap Candi Bahal II berbentuk limas dengan puncak persegi empat. Mirip dengan atap Candi Bahal II.

Para peneliti mengungkapkan bahwa candi di desa Bahal ini adalah tiga di antara 26 runtuhan candi yang tersebar seluas 1.500 km² di situs percandian Padanglawas, yang berarti candi-candi yang terletak di padang luas yang mencakup, di antaranya:

      1.      Candi Pulo
      2.      Candi Barumun
      3.      Candi Singkilon
      4.      Candi Sipamutung
      5.      Candi Aloban
      6.      Candi Rondaman Dolok
      7.      Candi Bara
      8.      Candi Magaledang
      9.      Candi Sitopayan
      10.  Candi Nagasaribu.

Walau berdiri di bukit kecil dan dikelilingi lembah berupa lahan persawahan, Candi Bahal I tidak selalu sepi. Masyarakat sekitar, memang tahu kalau di situ ada komplek percandian. Namun, tiap harinya bisa dikatakan tidak ada pengunjung. Bisa dimaklumi karena angkutan umum ke komplek candi ini relatif jarang dan memakan waktu. Dari Medan, terpaksa tiga kali naik angkutan, Medan – Padang Sidempuan, Padang Sidempuan – Padang Bolak serta Padang Bolak - Desa Bahal, dengan waktu sekitar 12 jam.


candi bahal 3
Gambar 2.1 Candi Bahal II
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgHC2uepd8J1yO3xowWd2PSgakEIfA787Y6J6YftHX_s3FJP-MFMdlJ41tP7WRWi1r8moNJTdNiler_HwQOdO8a8Ncr3mZEunTni4iJDAt3-mVq-Po-M0nLgKQdqwbfaZTELGJdf8AILYPe/s1600/Candi+Bahal.jpg
Gambar 2.2 Candi Bahal III












Nashiruddin, seorang penduduk setempat mengatakan bahwa candi ini hanya ramai saat Lebaran atau Tahun Baru, itupun karena ada hiburan keyboard, dan biasanya dikutip Rp 2.000,- per orang. Kalau hari biasa, biasanya hanya ada anak-anak muda sekitar kampung yang sedang berpacaran. Pengunjung dalam sebulannya paling banyak 20 orang saja, sedangkan turis asing sudah lama tidak ada.Kendati merupakan kawasan wisata sejarah, tidak terlihat jejeran kios penjual makanan atau souvenir. Di luar hari libur besar, Candi Bahal I hanya berupa bangunan rapuh setinggi 12,8 meter dengan bayangan hitamnya di siang hari serta aliran Sungai Batang Panai sekitar 50 meter di bawahnya.




BAB III
KESIMPULAN
Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) di Sumatera Utara (Sumut), dikenal sebagai daerah dengan mayoritas penduduknya muslim. Keidentikannya dengan budaya Islam membuat banyak yang yang tak percaya ketika mengetahui ternyata di kabupaten ini terdapat peninggalan Candi Budha.
Candi yang juga dikenal dengan nama Biaro Bahal atau Candi Portibi adalah kompleks candi Buddha aliran Vajrayana yang terletak di Desa Bahal, Kecamatan Padang Bolak, Portibi, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Candi ini terbuat dari bahan bata merah dan diduga berasal dari sekitar abad ke-11 dan dikaitkan dengan Kerajaan Pannai, salah satu pelabuhan di pesisir Selat Malakayang ditaklukan dan menjadi bagian dari mandala Sriwijaya.

Walau berdiri di bukit kecil dan dikelilingi lembah berupa lahan persawahan, Candi Bahal I tidak selalu sepi. Masyarakat sekitar, memang tahu kalau di situ ada komplek percandian. Namun, tiap harinya bisa dikatakan tidak ada pengunjung. Bisa dimaklumi karena angkutan umum ke komplek candi ini relatif jarang dan memakan waktu sekitar 12 jam.

Meskipun demikian, candi yang juga merupakan peninggalan atau bukti nyata dari sejarah Indonesia ini harus tetap dijaga, dirawat, dan juga dilestarikan. Bangunan kuno nan indah ini, tidaklah dibangun semata-mata hanya sebagai sarana objek wisata saja, akan tetapi juga mengandung berbagai filosofi dan makna kehidupan lainnya. Mulai dari letak bangunan, struktur bangunan, arca atau pahatan-pahatan relief yang ada, dan lain sebagainya.

Oleh sebab itu, dari candi ini tidak hanya didapatkan wisata sejarahnya saja, namun juga wisata hiburan  dan religi. Candi ini memiliki arca dua agama yang berbeda yaitu Hindu dan Buddha. Dengan adanya arca ini, seakan mengingatkan kita untuk saling menghormati atas perbedaan keyakinan yang dianut.

Semoga di masa yang akan dating, seluruh candi atau berbagai macam bentuk peninggalan sejarah yang ada di Indonesia dapat lebih dilestarikan dan diperindah lagi. Serta akses menuju lokasinya juga semoga dapat dipermudah, sehingga mampu menarik pengunjung / wisatawan yang lebih banyak lagi, baik dari pribumi maupun turis asing. Terutama bagi peninggalan-peninggalan sejarah yang kurang dikenal oleh masyarakat lokal maupun masyarakat asing. Karena walau bagaimanapun bangunan / benda-benda bersejarah tersebut memiliki kaitan yang begitu erat dengan sejarah Negara kita sendiri di masa yang lalu.




DAFTAR PUSTAKA


No comments:

Post a Comment